Langkah operasional Diagnostik dan Remedial Kesulitan Belajar

Langkah-langkah  operasional  Diagnostik  dan  Remedial Kesulitan Belajar
(dengan ilustrasi kasus)

Dalam pembelajaran di kelas dengan banyak siswa, tidak semua siswa dapat memahami materi yang dibelajarkan. Setiap kelas pasti ditemui siswa yang mengalami kesulitan belajar terutama di mata pelajaran kimia yang kontennya banyak memuat pengetahuan abstrak (tidak dapat diindera secara langsung), seperti pokok bahasan model atom, bentuk molekul, gaya antar molekul, koloid, ataupun hitungan seperti stoikiometri dan kesetimbangan ion. Pokok bahasan tersebut cenderung sulit dipelajari siswa karena menuntut penalaran yang tinggi dan kemampuan imajinasi yang baik. Padahal, siswa SMA dalam rentang usia 16-18 tahun baru memasuki fase perkembangan kognitif operasional formal (Teori perkembangan kognitif Piaget). Berpikir abstrak merupakan hal baru bagi siswa SMA. Maka tidak asing jika mata pelajaran kimia termasuk mata pelajaran yang sulit dipahami siswa.
Berdasarkan materi sebelumnya tentang langkah-langkah diagnostik dan remedial kesulitan belajar, untuk kasus kesulitan belajar siswa SMA pada mata pelajaran kimia dapat dilakukan hal berikut.
1.      Identifikasi Kasus
Tahap pertama adalah identifikasi kasus, yaitu dengan mencari tahu siapa saja siswa yang mengalami kesulitan belajar. Cara yang paling mudah adalah dengan melihat hasil tes formatif siswa pada materi tertentu seperti nilai-nilai ulangan harian, hasil post test, hasil kuis yang dilaksanakan guru. Tentukan KKM (Kriteria Ketuntasan Minimal) dan rata-rata kelas untuk hasil tes formatif tersebut lalu tentukan siswa-siswa yang tidak mencapai kedua kriteria tersebut. Misalkan saja dalam satu kelas terdapat lima siswa yang nilainya jauh di bawah rata-rata kelas dan tidak mencapai KKM.
2.      Identifikasi Masalah
Setelah menentukan dan memprioritaskan siswa mana yang diduga mengalami kesulitan belajar, maka langkah berikutnya adalah menentukan atau melokalisasikan pada aspek mana siswa tersebut mengalami kesulitan. Caranya yaitu dengan mengalisis butir soal tes yang telah disajikan. Soal mana yang cenderung tidak dikuasai oleh mayoritas siswa yang mengalami kesulitan belajar tersebut. Atau cara lainnya dapat langsung dilakukan dengan mewawancarai siswa untuk menanyakan bagian mana materi yang sulit bagi siswa.
Misal pada materi kesetimbangan kimia siswa banyak yang salah menjawab soal tes pada sub materi kriteria keadaan setimbang (reversible, dalam sistem tertutu, tidak terjadi perubahan makroskopis) dan sulit menentukan arah pergeseran kesetimbangan saat suatu reaksi kesetimbangan dikenai gangguan.
3.      Identifikasi Faktor Penyebab Kesulitan Belajar
Langkah berikutnya adalah mencari tahu faktor kesulitan belajarnya. Siswa mengalami kesulitan belajar disebabkan oleh materi pelajaran yang sulit atau ada faktor lain yang mengganggu proses belajar siswa, seperti tidak tersedianya waktu luang untuk belajar sebelum tes dilaksanakan karena kesibukan membantu orang tua bekerja atau keterbatasan sumber belajar, tidak adanya tutor belajar di rumah yang bisa membantu saat ada materi yang sulit dipahami. Identifikasi tersebut dapat dilakukan dengan wawancara baik langsung kepada siswa yang bersangkutan, guru mata pelajaran, wali kelas bahkan orang tua siswa.
4.      Prognosis/Perkiraan Kemungkinan Bantuan
Selanjutnya adanya melakukan perkiraan kemungkinan bantuan yang dapat diberikan kepada siswa yang mengalami kesulitan belajar tersebut. Dari identifikasi sebelumnya dapat diperkirakan bantuan seperti melakukan pembelajaran tambahan di luar jam pelajaran (pembelajaran remedial) khusus untuk siswa yang mengalami kesulitan belajar tersebut. Guru juga harus memikirkan strategi pembelajaran yang efektif untuk memudahkan siswa memahami materi yang sulit tersebut. Guru bisa member perhatian lebih jauh terhadap lima siswa tersebut sehingga dapat membimbing siswa secara lebih intensif dalam memahami materi yang sulit. Selain itu, guru juga dapat membimbing siswa dalam membuat catatan kecil tentang hubungan faktor-faktor pergeseran kesetimbangan dan membuat singkatan-singkatan yang mudah diingat siswa (jembatan keledai). Faktor lain yang penting dan perlu diingat adalah guru juga harus memberi motivasi kepada siswa agar tetap bersemangat dan tekun mempelajari materi-materi yang menurut mereka sulit.
5.      Referal
Guru juga harus memikirkan dari hasil pembelajaran remedial tersebut tindakan preventif apa yang dapat dilakukan agar siswa yang mengalami kesulitan belajar berkurang bahkan tidak ada lagi di pembelajaran berikutnya. Misalnya dengan member tugas kepada siswa untuk membuat mind map pada setiap pembelajaran, atau membuat jembatan keledai untuk materi-materi tertentu yang sifatnya hafalan.
6.      Pelaksaan
Tindakan selanjutnya adalah pelaksanaan pembelajaran remedial. Pembelajaran remedial ini merupakan pelaksanaan dari kegiatan prognosis pada tahap sebelumnya. Rencana bantuan yang sudah diperkirakan selanjutnya diterapkan. Setelah pembelajaran remedial dilaksanakan, harus diingat untuk melakukan evaluasi lagi untuk mengetahui keefektifan pembelajaran remedial tersebut dan untuk mengetahui apakah siswa yag mengalami kesulitan belajar tersebut sudah mampu mencapai tujuan pembelajaran yang ingin dicapai. Berikut ini dibahas lebih lanjut tentang pembelajaran remedial.

PROGRAM REMEDIAL
A.    Pengertian Remedial
Dalam kamus Bahasa Inggris kata remedial berarti yang berhubungan dengan perbaikan. Dengan demikian yang dimaksud pengajaran remedial adalah suatu bentuk pengajaran yang berbentuk perbaikan, atau suatu bentuk pengajaran yang membuat menjadi baik. Pembelajaran remedial adalah pembelajaran yang ditujukan untuk membantu siswa yang mengalami kesulitan dalam menguasai materi pelajaran.
Sedangkan menurut Prayitno remedial merupakan suatu bentuk bantuan yang diberikan kepada seseorang atau sekelompok siswa yang menghadapi masalah belajar dengan maksud untuk memperbaiki kesalahan-kesalahan dalam proses dan hasil belajar mereka.

B.     Tujuan dan fungsi Remedial
Diantara tujuan pembelajaran remedial yaitu membantu siswa mencapai hasil belajar sesuai dengan tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan dalam kurikulum. Jadi secara umum tujuan pembelajaran remedial sama dengan tujuan pembelajaran regular. Secara khusus tujuan pembelajaran remedial adalah membantu siswa yang mengalami kesulitan belajar agar mencapai prestasi belajar yang diharapkan melalui proses penyembuhan dalam aspek kepribadian atau dalam proses belajar mengajar.
Dalam pembelajaran remedial siswa dibantu untuk memahami kesulitan belajar yang dihadapinya kemudian dibantu untuk mengatasi kesulitan tersebut dengan cara memperbaiki cara belajar dan sikap belajar yang dapat mendorong tercapainya hasil belajar secara optimal serta mampu melaksanakan tugas-tugas belajar yang diberikan guru.
Fungsi pembelajaran remedial yaitu :
a)    Fungsi korektif adalah usaha untuk memperbaiki atau meninjau kembali sesuatu yang dianggap keliru. Pembelajaran remedial mempunyai fungsi korektif karena pembelajaran ini dilakukan dalam rangka perbaikan dalam proses pembelajaran.
b)      Fungsi pemahaman, dalam pelaksanaan remedial terjadi proses pemahaman terhadap pribadi peserta didik, baik dari pihak guru, pembimbing maupun peserta didik itu sendiri. Dalam hal
c)      ini guru berusaha membantu peserta didik untuk memahami dirinya dalam hal jenis dan sifat kesulitan yang dialami, kelemahan dan kelebihan yang dimiliki.
d)     Fungsi penyesuaian, dalam hal ini peserta didik dibantu untuk belajar sesuai dengan keadaan dan kemampuan yang dimiliknya sehingga tidak menjadikan beban bagi peserta didik. Penyesuaian beban belajar memberikan peluang bagi peserta didik untuk memperoleh prestasi belajar yang baik.
e)      Fungsi pengayaan, dalam hal ini guru berusaha membantu peserta didik mengatasi kesulitan belajar dengan menyediakan atau menambah berbagai materi yang tidak atau belum disampaikan dalam pembelajaran biasa.
f)       Fungsi akselerasi, yaitu usaha mempercepat pelaksanaan proses pembelajaran dalam arti menambah waktu dan materi untuk mengejar kekurangan yang dialami peserta didik.
g)      Fungsi terapeutik, karena secara langsung atau tidak remedial berusaha menyembuhkan beberapa gangguan atau hambatan peserta didik.

C.    Bentuk-bentuk pelaksanaan remedial
Pembelajaran remedial bersifat lebih khusus karena bahan, metode dan pelaksanaannya disesuaikan dengan jenis, sifat dan latar belakang kesulitan belajar yang dihadapi siswa. Pemberian remedial didasarkan atas latar belakang bahwa pendidik perlu memperhatikan perbedaan individual peserta didik. Dengan diberikannya pembelajaran remedial bagi peserta didik yang belum mencapai tingkat ketuntasan belajar, maka peserta didik ini memerlukan waktu lebih lama daripada mereka yang telah mencapai tingkat penguasaan. Setelah diketahui kesulitan belajar yang dihadapi siswa, langkah berikutnya adalah memberikan perlakuan berupa pembelajaran remedial.

D.    Pendekatan pembelajaran remedial
Pembelajaran remedial merupakan kegiatan yang sangat penting dalam keseluruhan program pembelajaran, maka perlu memahami berbagai pendekatan dan metode remedial. Pendekatan ini dibedakan menjadi tiga yaitu :
a)      Pendekatan kuratif, pendekatan ini dilakukan setelah program pembelajaran selesai dilaksanakan dan dievaluasi, guru akan menjumpai beberapa bagian di peserta didik yang tidak mampu menguasai seluruh bahan yang telah disampaikan. Dalam hal ini guru harus mengambil sikap yang tepat dalam memberikan layanan bimbingan belajar yang disebut dengan pembelajaran remedial. Sedang peserta didik yang hampir berhasil dan yang berhasil dapat diberikan layanan pengayaan atau diarahkan ke program pembelajaran yang lebih tinggi.
b)      Pendekatan preventif, pendekatan ini diberikan kepada peserta didik yang diduga akan mengalami kesulitan belajar dalam menyelesaikan program yang akan ditempuh. Pendekatan preventif ini ini bertolak dari hasil pretes atau evaluative reflektif. Berdasarkan hasil pretes ini guru dapat mengklasifikasikan kemampuan peserta didik menjadi tiga golongan, yaitu peserta didik yang diperkirakan mampu menyelesaikan program sesuai dengan waktu yang disediakan, peserta didik yang diperkirakan akan mampu menyelesaikan program lebih cepat dari waktu yang ditetapkan, dan peserta didik diperkirakan akan terlambat atau tidak dapat menyelesaikan program sesuai waktu yang telah ditetapkan.
c)      Pendekatan pengembangan, pendekatan ini merupakan upaya diagnostik yang dilakukan guru selama berlangsungya pembelajaran. Sasarannya agar peserta didik dapat segera mengatasi hambatan-hambatan yang dialami selama mengikuti pembelajaran.

Sumber:

Mahmudah, Anna Rif’atul. (2014). Pelaksanaan Program Remedial dan Pengayaan dalam Meningkatkan Prestasi Belajar PAI Siswa Kelas VII SMP N 5 Yogyakarta Tahun Pelajaran 2013/2014 (Skripsi). Yogyakarta: Jurusan Pendidikan Agama Islam Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga.

Komentar

Postingan Populer