LATAR BELAKANG DIPERLUKANNYA BIMBINGAN DAN KONSELING
LATAR BELAKANG DIPERLUKANNYA
BIMBINGAN DAN KONSELING
Kebutuhan akan bimbingan dan konseling
sangat dipengaruhi oleh faktor berikut:
1. Faktor
filosofis.
Berkaitan
dengan pandangan tentang hakikat manusia seperti dalam aliran filsafat
humanisme yang berpandangan bahwa manusia memiliki potensi yang dapat
dikembangkan seoptimal mungkin.
2. Faktor
psikologis.
Berkaitan
erat dengan proses perkembangan manusia
yang sifatnya unik, berbeda dari individu lain dalam perkembangannya. Hal ini
berimplikasi pada pengembagan potensi diri sesuai keunikan tiap individu.
3. Faktor
sosial budaya.
Kehidupan
sosial budaya bersifat terbuka yang mendorong terjadinya perubahan nilai
dimasyarakat. Bimbingan dan konseling berfungsi membantu individu memelihara,
menginternalisasi, memperhalus, dan memaknai nilai sebagai landasan
pengembangan diri.
4. Faktor
ilmu pengetahuan dan teknologi.
Kemajuan
iptek menuntut individu untuk menyesuaikan diri mengikuti perkembangan zaman
sesuai dengan minat dan bakat yang dimiliki.
5. Faktor
demokratisasi dalam pendidikan.
Berkumpulnya
banyak individu dari berbagai latar belakang memunculkan tumpukan masalah
sehingga diperlukan bimbingan dan konseling untuk menanggulanginya.
6. Faktor
perluasan program pendidikan.
Setiap
individu memiliki kesempatan yang sama dalam menempuh pendidikan setinggi
mungkin. Bimbingan dan konseling berfungsi memberikan arahan kelanjutan
pendidikan serta pengarahan minat dan bakat setiap individu.
7. Faktor
perkembangan industri.
Perkembangn
industri memunculkan kenakalan dan tidak terkendalinya moral masyarakat
sehingga dibutuhkan bimbingan dan konseling untuk menyelesaikannya.
LATAR
BELAKANG DIPERLUKANNYA LAYANAN BIMBINGAN DAN KONSELING DI SEKOLAH
Globalisasi yang
sedang berkembang memunculkan dampak negative, yaitu:
1.
Keresahan hidup masyarakat karena
banyaknya konflik, stres, kecemasan, dan frustasi.
2.
Adanya kecenderungan pelanggaran
disiplin.
3.
Adanya ambisi kelompok yang menimbulkan
konflik fisik maupun psikis.
4. Pelarian dari masalah degan jalan pintas
yang bersifat sementara dan bersifat aditif, seperti penggunaan narkoba.
Dampak
tersebut menuntut adanya sumber daya manusia yang bermutu, yang dapat dibangun
melalui pendidikan yang bermutu. Oleh sebab itu, diperlaukan layanan bimbingan
dn konseling di lingkungan sekolah sebgai lingkungan pendidikan untuk
pencapaian kualitas individu baik dalam aspek akademis maupun moral.
SEJARAH PERKEMBANGAN BIMBINGAN DAN
KONSELING DI AMERIKA SERIKAT
Berikut
ini perkembangan bimbingan dan konseling di Amerika Serikat:
1.
(1898-1907) Jesse B. Davis, beliau
bekerja sebagai konselor sekolah menengah di Detroit.
2. (1908) Frank Parsons, mendirikan
Vocational Bureau untuk membantu para remaja memilih pekerjaan yang cocok.
3.
(1910) William Healy, mendirikan
Juvenile Psychopatic Institut di Chicago.
4.
(1911) Meyer Blomfield, memberikan
kuliah bimbingan jabatan di Universitas Harvard.
5.
(1912) Grand Rapids, Micigan mendirikan
lembaga bimbingan dalam sistem sekolahnya.
6.
(1913) berdiri National Vocational
Guidance Association di Grand Rapids.
7.
(1952) berdirinya APGA (American
Personnel an Guidance Association)
8. (1953) APGA mengubah nama menjadi AACD
(American Association for Counseling and Development).
SEJARAH
PERKEMBANGAN BIMBINGAN DAN KONSELING DI INDONESIA
Berikut
ini perkembangan bimbingan dan konseling di Indonesia:
1.
(1960) di beberapa sekolah diberlakukan
bimbingan akademis.
2. (1964) lahir kurkulum SMA Gaya Baru,
dengan keharusan melaksanakan program bimbingan dan penyuluhan namun tidak
berjalan optimal.
3. (1963) IKIP membuka Jurusan Bimbingan
dan Penyuluhan yang saat ini dikenal UPI dengan nama Jurusan Psikologi
Pendidikan dan Bimbingan (PPB).
4. (1975) bimbingan dan konseling
diprogramkan di sekolah sejak diberlakukannya kurikulum 1975.
5.
(1975) berdiri Ikatan Petugas Bimbingan
Indonesia (IPBI) di Malang.
6.
(1984) berlakunya Kurikulum 1984 yang
didalamnya dimaksukkan bimbingan karakter.
7. (1989) berlakunya UU No. 2/1989 tentang
Sistem Pendidikan Nasional yang di dalamnya menyebutkan pendidikan melalui
kegiatan bimbingan.
8. (1993) berlakunya SK Menpan No.84/1993 tentang
Jabatan Fungsional Guru dan Angka Kreditnya yang menyebutkan bahwa tugas guru
adalah menyusun program bimbingan.
9.
(2001) IPBI berubah nama menjadi AKBIN
(Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia).
Sumber:
Nurihsan, Achmad Juntika. (2006). BIMBINGAN DAN KONSELING. Bandung: Refika
Aditama.
Komentar
Posting Komentar