TEKNIK DASAR PEMAHAMAN INDIVIDU
TEKNIK DASAR PEMAHAMAN INDIVIDU
A.
Peserta didik/individu memiliki
sejumlah karakteristik, diantaranya:
1. Peserta didik adalah individu yang
memiliki potensi fisik dan psikis yang khas, sehingga ia merupakan insan yang
unik.
2. Peserta didik adalah individu yang
sedang berkembang, artinya peserta didik tengah mengalami perubahan-perubahan
dalam dirinya secara wajar, baik yang ditujukan kepada diri sendiri maupun yang
diarahkan pada penyesuaian dengan lingkungannya.
3. Peserta didik adalah individu yang
membutuhkan bimbingan individual dan perlakuan manusiawi.
4. Peserta didik adalah individu yang
memiliki kemampuan untuk mandiri.
B.
Pandangan Tentang Murid sebagai Anak
Setidak-tidaknya terdapat tiga jenis pandangan tentang anak,
yaitu:
1.
Pandangan
lama, menyebutkan anak adalah orang dewasa yang kecil. Karena itu segala
sesuatunya perlu disamakan seperti halnya orang dewasa. Padahal, anak adalah
sebagai anak. Anak tidak bisa dan tidak mungkin disamakan dengan orang dewasa. Perlakuan
terhadap anak tidak boleh dipersamakan dengan perlakuan seperti orang dewasa.
Setiap anak berada dalam tahap sedang dalam berkembang, ia memiliki banyak
potensi-potensi yang dimiliki. Sebagai calon anggota masyarakat maka ia harus
dipersiapkan sesuai dengan masyarakat setempat. Pandangan ini dikenal dengan
istilah child in society.
2.
Murid
sebagai pribadi yang kompleks. Dalam hal ini, J. Looke berpandangan bahwa jiwa
anak bagaikan tabula rasa, sebuah meja lilin yang dapat ditulis dengan apa saja
bagaimana keinginan si pendidik. Tidak ada bedanya dengan sehelai kertas putih
yang dapat ditulis dengan tinta warna apa saja. J.J. Rousseau memandang
anak memiliki jiwa yang bersih dan karena lingkungan ia menjadi kotor.
3.
Menurut
psikologi modern, anak adalah organism yang hidup, yang mereaksi, berbuat, dan
sebagainya. Organisme yang hidup memiliki suatu kebutuhan, minat, kemampuan,
intelek, dan masalah-masalah tertentu. Dia tidak tinggal diam, melainkan
bersifat aktif, bersifat unik, memiliki bakat dan kematangan berkat adanya
pengaruh dari luar sehingga membentuk pribadi anak menjadi kompleks.
C.
Tujuan Mengenal Murid
Guru
mengenal murid-muridnya dengan maksud agar guru dapat membantu pertumbuhan dan
perkembangnnya secara efektif. Mengenal murid sangat penting agar guru dapat
menentukan bahan-bahan yang akan diberikan, menggunakan prosedur mengajar yang
serasi, mengadakan diagnosis atas kesulitan.
D.
Hal-hal yang Perlu dikenal dari
Pribadi Murid
Banyak
aspek dari pribadi murid yang perlu dikenal, aspek-aspek tersebut
diklasifikasikan sebagai berikut :
1.
Latar
Belakang Masyarakat
Kultur masyarakat dimana siswa
tinggal, besar pengaruhnya terhadap sikap siswa. Latar belakang cultural ini
menyebabkan para siswa memiliki sikap yang berbeda-beda tentang agama, politik,
masyarakat lain, dan cara bertingkah laku. Pengalaman anak-anak diluar sekolah
yang hidup di dalam masyarakat kota sangat berbeda dengan pengalaman para siswa
yang tinggal di pedesaan.
2.
Latar
Belakang Keluarga
Situasi di dalam keluarga besar
pengaruhnya terhadap emosi, penyesuaian social, minat, sikap, tujuan, displin,
dan perbuatan siswa disekolah. Guru perlu mengenal situasi dan kondisi dalam
keluarga siswa, agar dapat merencanakan kegiatan-kegiatan yang serasi, kendatipun
pengaruh keluarga ini tidak mutlak menetukan berhasilnya seorang siswa.
3.
Tingkat
Intelegensi
Hasil test intelegensi juga menjadi
sumber yang menggambarkan abilisitas belajar siswa. Bahkan menurut Wechsler,
bahwa intelegensi seseorang dipengaruhi oleh perasaan cemas, dorongan, rasa
aman, dan sebagainya. Faktor lingkungan yang berpengaruh terhadap kemantapan
daripada IQ. Tingkat intelegensi dapat digunakan untuk memperkirakan
keberhasilan seorang siswa.
4.
Hasil
Belajar
Guru perlu mengenal hasil belajar
dan kemajuan belajar siswa yang telah diperoleh sebelumnya. Hal-hal yang perlu
diketahui itu, ialah penguasaan pelajaran, keterampilan-keterampilan belajar
dan bekerja. Hal tersebut penting bagi guru karena dapat membantu guru
mendiagnosis kesulitan belajar siswa, dapat memperkirakan hasil dan kemajuan
belajar selanjutnya, hasil-hasil tersebut dapat saja berbeda dan bervariasi
sehubungan dengan kedaan motivasi, kematangan, dan penyesuaian sosial.
5.
Kesehatan
Badan
Guru perlu secara berkala mengetahui
tentang keadaan kesehatan dan pertumbuhan siswa. Keadaan kesehatan dan pertumbuhan
ini besar pengaruhnya terhadap hasil pendidikan dan penyesuaian social mereka.
6.
Hubungan
antar Pribadi
Perkembangan sosial menunjukan
keseluruhan pola pertumbuhan. Hubungan pribadi saling aksi dan mereaksi, penerimaan
oleh anggota kelompok, kerjasama dengan teman sekelompok akan menentukan
perasaan puas dan rasa aman di sekolah, sehingga berpengaruh pada kelakuan dan
motivasi belajarnya.
7.
Kebutuhan-kebutuhan
Emosional
Diantara kebutuhan emosional yang
penting dikalangan para siswa pada umumnya ialah ingin diterima, berteman, dan
rasa aman. Kebutuhan ini perlu mendapat kepuasan dan jika tidak berhasil
memberikan kepuasan atas kebutuhan tersebut maka akan menimbulkan frustasi dan
gangguan mental lainnya. Gangguan mental tersebut dapat dilihat dari tingkah
lakunya sebagai berikut: tingkah laku pemalu, kelakuannya sangat agresif,
tingkah laku submissive (terlalu bergantung pada orang lain), gejala sakit
somatis (sakit badan yang sebenarnya disebabkan oleh gangguan mental).
8.
Sifat-sifat
Kepribadian
Guru perlu mengenal sifat-sifat
kepribadian murid agar guru mudah mengadakan pendekatan pribadi dengan mereka,
sehingga hubungan pribadi menjadi lebih dekat dan pengajaran lebih efektif.
9.
Bermacam-macam
Minat Bakat
Guru perlu sekali minat muridnya
karena penting bagi guru untuk memilih bahan pelajaran, merencanakan pengalaman
belajar, menuntun kearah pengetahuan, dan mendorong motivasi belajar.
E.
Cara dan Alat untuk Mengenal Murid
Dalam
mengenal murid guru dapat menggunakan bermacam-macam alat, pengenalan terhadap
suatu aspek dapat digunakan lebih dari satu macam alat, dalam
uraian berikut dapat kita tinjau alat itu satu demi satu dalam garis besarnya
saja.
1.
Cumulative
Record
Sistem cumulative record
berisikan banyak macam keterangan tentang murid. Catatan itu ada
bermacam-macam. Ada yang menggunakan kartu berukuran 3 X 5 dengan sebanyak 8
pertanyaan, ada juga yang menggunakan folder 10 X 6 didalamnya terdapat
sejumlah kartu dan sejumlah pertanyaan. Setiap kartu memuat 117 jenis keterangan.
Cumulative record umumnya berisikan keterangan tentang berikut ini: keadaan
masyarakat, latar belakang keluarga, skor tes hasil pendidikan, skor tes
inteligensi, catatan pemeriksaan kesehatan badan, catatan kehadiran disekolah,
percakapan dan wawancara informal dengan murid, catatan tentang pertemuan
dengan orangtua dan kunjungan ke rumah, contoh pekerjaan murid, hasil-hasil
sosiometri, catatan-catatan tentang permainan dan kegiatan-kegiatan
ekstrakurikuler, minat-minat khusus.
2.
Anecdotal
records
Anecdotal Records adalah catatan tertulis tentang satu
atau lebih observasi-observasi guru terhadap kelakuan dan reaksi-reaksi murid
dalam berbagai situasi. Catatan ini dibuat sekali atau dua kali dalam seminggu
selama setahun, baru dapat menggambarkan perkembangannya selama waktu itu.
Catatan tersebut meliputi keterangan yang diperoleh melalui:
·
Percakapan
informal antara guru dan murid
·
Laporan
tentang siswa menggunakan waktu bebas
·
komentar
tentang orangtuannya
·
contoh-contoh
hasil kerja kreatif murid
·
kegiatan-kegiatan
murid, dsb.
3.
Percakapan-percakapan
dan Wawancara Informal
Dalam percakap-percakapan informal
dengan murid, sebelum masuk sekolah, dalam waktu istirahat dan waktu-waktu
lainnya, guru dapat mengarahkan pokok pembicaraan untuk mengungkapkan minat,
reaksinya terhadap sekolah, pengalam-pengalam yang didapat di luar sekolah,
motivasi, dan aspirasi mereka. Guru juga dapat mengetahui segala sesuatu
tentang pribadi murid dari wawancara informal. Dalam situasi-situasi ini
anak-anak memungkinkan berbicara secara bebas dan bersikap akrab serta adnya
kepercayaan murid terhadap guru.
4.
Observasi
Melaui observasi yang terus menerus
guru dapat memperoleh tentang abilitas. Sikapnya terhadap kegiatan-kegiatan
sekolah, partisipasi terhadap berbagai kegiatan, hubungan antar siswa dalam berbagai
kelompok. Observasi dapat juga berfungsi sebagai alat penilai.
5.
Angket
Angket terdiri dari sejumlah pertanyaan
tertulis yang disampaikan kepada murid-murid untuk mendapatkan jawaban yang
tertulis. Melalui angket, guru dapat mengenal tentang minat, masalah kebutuhan,
kecemasan, ambisi anak, dsb.
6.
Diskusi
Informal
Dalam diskusi ini, setiap murid
bebas mengemukakan pengalaman dan hal-hal yang diamatinya. Diskusi dilaksanakan
secara informal penuh persahabatan, saling member dan menerima.
7.
Tes
Tes tertulis dapat mengetahui
tentang hasil pendidikan para siswa, tingkat intelegensi, sifat-sifat
kepribadian, sikap, dan abilitas setiap murid. Macam-macam tes yakni:
·
Standarited
test, untuk mengetahui hasil belajar
murid
·
Thurthone
primary mental test,
untuk mengetahui untuk mengetahui tingkat intelegensi siswa
·
California
test of personality,
suatu tes kepribadian yang digunakan baik untuk siswa maupun untuk orang dewasa
·
tes
sikap
·
tes
bakat
·
the
‘guess who test’, disebut
juga tes reputasi, identifikasi, atau pendapat.
·
Projective
techniques,teknik
ini menyebabkan murid-murid mengekspresikan atau memproyeksikan minat,
keinginan, sikap atau pendapat.
·
Sosiometri,
digunakan untuk memperoleh gambaran tentang hubungan antara pribadi siswa atau
hubungan sosial diantara murid-murid di dalam kelas. Hasil dari sosiometri
disebut sosiogram. Sosiogram dibuat dengan menugaskan kepada setiap murid dalam
satu kelas untuk memilih dan menuliskannya pada selembar kertas tiga orang nama
temannya (sekelas), dengan kategori : yang paling disegani, yang paling
disenangi, yang paling tidak disenangi. Kemudian, kertas itu dikumpulkan dan
dibuatkankan suatu sosiogram.
8.
Konferensi
antar orang tua dan guru
Dalam kesempatan mengunjungi orang
tua murid dan mengadakan pertemuan dengan orang tua murid tersebut untuk
melaporkan kemajuan belajar murid maka guru sebaiknya menggunakan kesempatan
itu untuk mempelajari situasi keluarga. Dalam melaksanakan konferensi ini
hendaknya guru bekerja sama dengan teliti. Buchler dan kawan-kawan memberikan
saran-saran sebagai berikut:
·
Mulailah
dengan suatu pernyataan yang positif tentang kemampuan dan minat siswa,
sehingga orang tua tersebut terangsang untuk berbicara lebih lanjut.
·
Terimalah
tujuan-tujuan dan keinginan-keinginan orang tua kendatipun mungkin berbeda
dengan sekolah. Kemudian perluas tujuan-tujuan belajar yang sempit itu menjadi
tujuan-tujuan yang lebih luas, perkembangan pribadi dan penyesuaian sosial.
·
Doronglah
orang tua agar menyatakan keinginannya tentang kebutuhan anaknya dan carilah
alasan-alasan yang tepat untuk itu.
·
Lakukan
observasi terhadap para siswa itu dan bandingkan respon-responnya antara
sekolah dengan rumah, buatlah interpretasinya.
·
Ingat
bahwa kritik atau evaluasi dari para siswa ditanggapi secara emosional,
demikian pula halnya oleh orang tua.
·
Dengarkan
tuntutan atau kritik orang tua terhadap sekolah dan terimalah sebagai tanda
bukti adanya minat atau saran-saran yang perlu dipertimbangkan.
·
Apabila
terjadi diskusi tentang suatu masalah, bersiap-siaplah menerima bermacam-macam
saran sesuai dengan kemampuan orang tua.
9.
Studi
Kasus (Case Study)
Dengan studi kasus, guru dapat
menghimpun banyak informasi tentang seorang murid dari berbagai sumber di dalam
satu-kesatuan pola. Manfaatnya ialah guru dapat memahami murid secara
menyeluruh dari individu siswa sehingga pola perkembangan siswa dapat diamati
secara kontinu. Selain itu guru mempelajari setiap individu siswa dan
mempelajari sekelompok anak yang maladjusted dan well-adjusted. Semua teknik
yang telah diuraikan dapat digunakan dalam studi kasus. Langkah-langkah membuat
studi kasus adalah sebagai berikut:
·
Melakukan
studi yang teliti terhadap cumulative record murid di sekolah
·
Mangamati
kegiatan-kegiatannya di dalam kelas dan di luar lapangan
·
Mengamati
reaksi teman-temannya terhadapnya dan reaksi terhadap mereka
·
Memperbincangkannya
dengan guru lain yang mengenal murid tersebut
·
Mengadakan
serangkaian pertemuan dengan individu murid tersebut
·
Mengadakan
analisis terhadap pekerjaan tertulis dan skor-skor tes intelegensi hasil
belajar, apabila khusus dan minat
·
Melakukan
kunjungan ke rumah dan melakukan pertemuan dengan orang tuanya
·
Merangkum
keterangan tentang murid
·
Menafsirkan
data
·
Merencanakan
suatu program untuk membantu murid.
Informasi yang diperoleh
diklasifikasikan sebagai berikut:
·
Informasi
umum (Nama dan alamat, nama orang tua, umur kronologis, masuk sekolah, kelas,
situasi masyarakat khususnya faktor-faktor yang mempengaruhi anak secara
langsung)
·
Latar
belakang keluarga (Pendidikan formal orang tua, jabatan orang tua, kakak dan
adik (pendidikan dan jabatan), status dalam keluarga (diterima, ditolak,
favorit), status sosial dan ekonomi keluarga, mobilitas keluarga)
·
Catatan
sekolah (Hasil belajar dan kehadiran di sekolah, catatan sebagai warga Negara,
hasil belajar dalam setiap mata pelajaran, perubahan-perubahan yang signifikan
dalam kemajuan di sekolah, kegiatan-kegiatan di sekolah, hubungan-hubungan
sosial dengan murid lain
·
Mental
abilitas (abilitas umum (MA, IQ) dan abilitas khusus dan bakat)
·
Kondisi
jasmani (vitalitas jasmani, bentuk badan (struktur), berat badan (lebih atau
kurang), penglihatan dan pendengaran, kebiasaan-kebiasaan sehat (makan, tidur,
dan mandi), keterampilan-keterampilan jasmani)
·
Pengalaman-pengalaman
di luar sekolah (Kegiatan-kegiatan waktu senggang, jenis dan banyaknya waktu
yang digunakan untuk itu, teman bermain (umur), pekerjaan atau tugas sehari-hari
di luar rumah)
Informasi yang telah dihimpun
tentang seorang murid perlu ditafsirkan, dianalisis, dan ditarik kesimpulan
guna mengetahui tingkat perkembangan, kematangan, masalah, dan pemahaman lebih
baik).
F.
Pentingnya
Memahami Peserta Didik
Pentingnya
Pemahaman Guru/Konselor Mengenai Peserta Didik diantaranya adalah :
1.
Dengan
mengetahui dasar – dasar pemahaman peserta didik, seorang guru/konselor
akan dapat memberikan harapan yang realistis terhadap anak dan remaja.
2.
Dengan
mengetahui dasar – dasar pemahaman peserta didik, seorang guru/konselor akan
lebih mudah dalam memberikan respons yang tepat terhadap perilaku tertentu
seorang peserta didik (konseli).
3.
Dengan
mengetahui dasar – dasar pemahaman peserta didik, seorang guru/konselor akan
lebih mudah dalam mengenali kapan perkembangan normal yang sesungguhnya
dimulai, sehingga guru dapat mempersiapkan anak menghadapi perubahan yang akan
terjadi pada tubuh, perhatian dan perilakunya.
4. Dengan mengetahui dasar – dasar
pemahaman peserta didik, seorang guru/konseli akan lebih mudah dalam memberikan
bimbingan yang tepat pada peserta didik.
G.
Faktor
– faktor yang harus diketahui dalam mengetahui dasar – dasar pemahaman peserta
didik
Dalam
memahami dasar – dasar pemahaman peserta didik hal – hal yang perlu
diperhatikan antara lain :
1.
Kompetensi
guru pembimbing/konselor
2.
Mengetahui
Klasifikasi Layanan
3.
Strategi
Pelaksanaan Layanan Bimbingan dan Konseling
4.
Memperhatikan
Kebutuhan Para Peserta Didik
5.
Memperhatikan
Karakteristik Perkembangan Peserta didik (Usia Remaja SMA).
sumber: https://fingeridea.wordpress.com/2012/05/23/teknik-teknik-dasar-dalam-pemahaman-individu/
sumber: https://fingeridea.wordpress.com/2012/05/23/teknik-teknik-dasar-dalam-pemahaman-individu/
Komentar
Posting Komentar